Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

TOTAL PENGAKSES

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini356
mod_vvisit_counterHari Kemarin464
mod_vvisit_counterMinggu Ini2374
mod_vvisit_counterMinggu Kemarin3603
mod_vvisit_counterBulan Ini12334
mod_vvisit_counterBulan Kemarin12976
mod_vvisit_counterTotal Pengakses1204372

Pembinaan Hamba Tuhan dan Pengembangan STAKN Palangkaraya Tahun 2017 PDF Print E-mail
Written by Mahai Pratiwi   
Tuesday, 23 May 2017 11:25

Palangka Raya, DBKPada hari Senin tanggal 22 Mei 2017 Sekretaris Ditjen Bimas Kristen menghadiri dan menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh STAKN Palangka Raya. Acara yang berlangsung dari tanggal 22 sampai dengan tanggal 24 Mei 2017 ini diselenggarakan di gedung aula STAKN Palangka Raya dan dibuka secara resmi oleh Ketua STAKN Palangka Raya, Netto WS. Rahan. Acara ini dihadiri oleh  150 orang hamba Tuhan dari berbagai denominasi gereja seperti GKE (Gereja Kristen Evangelis), GKII, HKBP, dan GPIB serta para pegawai STAKN Palangka Raya.

Dalam materinya, Sekretaris Ditjen Bimas Kristen menyampaikan bahwa Indonesia bukanlah negara agama, melainkan negara beragama. Agama seharusnya memberikan kontribusi yang positif dalam pembangunan bangsa dan negara. Ada pun pembangunan yang bisa dilakukan, dalam hal ini khususnya oleh Kementerian Agama adalah pembangunan agama dan pendidikan agama serta pembangunan dalam bidang pendidikan keagamaan. Selain itu juga disampaikan mengenai visi dan misi Ditjen Bimas Kristen. Dalam perjalanan untuk mencapai visi dan misi tersebut pasti ada hambatannya. Maka perlu diadakan evaluasi untuk mengetahui apa yang menjadi penghalang tercapainya visi dan misi tersebut.

Dalam kaitannya dengan pengembangan STAKN, khususnya STAKN Palangka Raya, ada beberapa hal yang bila dicermati merupakan faktor penghambat dalam pengembangan STAKN Palangka Raya dan juga lembaga pendidikan lainnya, yaitu:

1. Teologi/dogma Kristen yang dibatasi oleh organisasi gereja

2. Pemahaman bahwa menjadi pelayan Tuhan atau Rohaniwan tidak perku sekolah tinggi-tinggi

3. Peserta didik yang menempuh pendidikan hanya untuk mendapat gelar atau ijazah saja

4. Terbatasnya anggaran.

 

Untuk itu perlu dilakukan hal-hal berikut untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut di atas:

1. Sosialisasi dan membangun komunikasi yang baik serta intens dengan para stake holders yaitu gereja, lembaga-lembaga keagamaan Kristen, pemerintah dan masyarakat

2. Meningkatkan kualitas dan keunggulan lulusan tentang berbagai pengetahuan terutama pengamalan agama Kristen

3. Meningkatkan moratorium tentang pembukaan prodi batu PTT/AK

4. Perlu adanya peningkatan kualitas dan kualifikasi pendidikan

Last Updated on Friday, 26 May 2017 12:37