Mimbar Kristen Edisi Minggu, 24 Mei 2026,Pengkhotbah: Pdt. Dr. Henoch Edi Haryanto M.Th (Ketua PGPI Wilayah Jawa Tengah)

Senin, 25 Mei 2026, 11:59:47 WIB

Mimbar Kristen
Edisi Minggu, 24 Mei 2026
Pengkhotbah: Pdt. Dr. Henoch Edi Haryanto M.Th (Ketua PGPI Wilayah Jawa Tengah)
Bacaan: Mazmur 73:1–28
Tema: ALLAH ITU BAIK

Pendahuluan
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Sikap hidup seseorang sangat ditentukan oleh bagaimana ia mengenal Tuhan. Mengenal Allah dengan benar berarti memahami sifat, karakter, dan kehendak-Nya sebagaimana Ia memperkenalkan diri-Nya kepada kita.

Mazmur 73 yang ditulis oleh Asaf memperlihatkan sebuah pergumulan iman yang sangat manusiawi. Asaf adalah seorang pemimpin pujian pada zaman Daud, seorang yang melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Namun di tengah pelayanannya, ia pernah mengalami pergumulan besar ketika melihat kehidupan orang fasik tampak lebih berhasil daripada orang yang hidup benar.

Meski demikian, Mazmur ini dimulai dengan sebuah pengakuan iman yang kuat:
"Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya." (Mazmur 73:1)

Kata “sesungguhnya” menjadi sebuah penegasan mutlak bahwa Allah tetap baik, apa pun keadaan yang sedang terjadi.

Pergumulan Melihat Kemakmuran Orang Fasik
Saudara-saudari yang terkasih,
Asaf dengan jujur mengakui bahwa imannya hampir tergelincir. Ia iri ketika melihat orang-orang fasik hidup makmur, sehat, dan seolah tidak memiliki kesusahan. Ia melihat orang-orang yang tidak takut Tuhan justru hidup nyaman, sementara dirinya yang melayani Tuhan harus bergumul dengan banyak persoalan.

Pergumulan ini sering juga kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Kadang kita bertanya:
“Mengapa orang yang hidup tidak benar justru terlihat berhasil?”
“Mengapa orang yang sungguh-sungguh ikut Tuhan masih mengalami kesulitan?”

Namun melalui pengalaman Asaf, kita belajar bahwa kebaikan Tuhan tidak boleh diukur hanya dari keadaan lahiriah atau keberhasilan duniawi.

Memiliki Cara Pandang yang Benar
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Salah satu penyebab Asaf hampir jatuh adalah karena ia mulai membandingkan hidupnya dengan orang lain. Fokusnya bergeser dari Tuhan kepada keberhasilan orang fasik.

Firman Tuhan mengajarkan bahwa hidup rohani bukanlah alat untuk menuntut Tuhan memenuhi semua keinginan kita.Tuhan Yesus pernah berkata kepada Petrus ketika ia membandingkan dirinya dengan Yohanes:
"Apa urusanmu dengan dia? Ikutlah Aku."

Artinya, fokus utama kehidupan orang percaya bukanlah membandingkan diri dengan orang lain, melainkan tetap setia mengikuti Tuhan. Ketika cara pandang kita benar, kita tidak akan mudah dikuasai iri hati dan kekecewaan.

Membangun Relasi yang Akrab dengan Tuhan
Saudara-saudari yang terkasih,
Titik balik kehidupan Asaf terjadi ketika ia masuk ke tempat kudus Allah. Di hadapan Tuhan, ia mulai memahami segala sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda.

Mazmur 73:17 berkata:
"Sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah dan memperhatikan kesudahan mereka."

Di dalam hadirat Tuhan, Asaf mendapatkan kejelasan dan pengertian. Ia menyadari bahwa kehidupan orang fasik hanyalah sementara, sedangkan orang yang hidup dekat dengan Tuhan memiliki pengharapan kekal.

Dalam hidup ini kita tidak hanya membutuhkan mata fisik, tetapi juga mata hati yang diterangi oleh Roh Kudus.

Karena itu, saat pergumulan datang, jangan menjauh dari Tuhan. Justru kita harus semakin dekat kepada-Nya.

Menempatkan Tuhan sebagai yang Terutama
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Pada akhirnya Asaf sampai pada sebuah kesimpulan iman yang luar biasa:
"Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi." (Mazmur 73:25)

Asaf menyadari bahwa kebutuhan terbesar dalam hidup bukanlah kekayaan, kenyamanan, atau keberhasilan duniawi, melainkan Tuhan sendiri.

Ketika Tuhan menjadi yang terutama, hati kita tidak lagi mudah goyah oleh keadaan dunia. Orang percaya yang dewasa adalah orang yang tetap menikmati hadirat Tuhan sekalipun hidup tidak selalu mudah.

Penutup
Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan,
Apakah keadaan Asaf langsung berubah? Tidak. Yang berubah adalah pemahamannya tentang kebaikan Allah.

Asaf belajar bahwa Allah tetap baik, bahkan ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan. Tuhan tetap menjadi tempat perlindungan dan sumber pengharapan yang sejati.

Hari ini firman Tuhan mengajak kita untuk:
* Memiliki cara pandang yang benar
* Tetap membangun relasi yang akrab dengan Tuhan
* Menempatkan Tuhan sebagai yang terutama dalam hidup

Sebab ketika kita hidup dekat dengan Tuhan, kita akan memahami bahwa kebaikan-Nya tidak pernah gagal. Dan pada akhirnya, kita pun dapat berkata seperti Asaf:
“Sesungguhnya Allah itu baik.”

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Berita Terkait