Menag jadi Keynote Speeker Pada Seminar Natal Nasional dan Moderasi Beragama GPdI se Papua Barat Daya

Minggu, 14 Desember 2025, 21:00:20 WIB

Sorong (DBK)---Menteri Agama Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa kerukunan umat beragama merupakan fondasi utama dalam pembangunan bangsa. Hal ini disampaikannya saat membuka Seminar Natal Nasional dan Moderasi Beragama yang diselenggarakan Majelis Daerah Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Papua Barat Daya, di Sorong, Sabtu, (13/12).
Menurut Menag kemajuan ekonomi dan pembangunan fisik tidak akan bermakna tanpa kedamaian dan persatuan.

Pada kegiatan yang turut dihadiri oleh Dirjen Bimas Kristen Jeane Marie Tulung, Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu, Direktur Urusan Agama Luksen Jems Mayor, Plt. Kakanwil Kemenag Papua Barat Daya dan para tokoh agama ini, Menag juga menyinggung pengalamannya menghadiri pertemuan lintas agama di Vatikan beberapa waktu lalu. Dari sejumlah deklarasi yang dihasilkan, Deklarasi Vatikan–Istiqlal menjadi salah satu yang pertama ditindaklanjuti karena menekankan penghentian dehumanisasi dan penguatan nilai kemanusiaan.

“Sudah saatnya bahasa agama menyatukan kemanusiaan. Tanpa agama, manusia tidak mungkin memanusiakan dirinya sendiri,” jelasnya.

Selain itu, Menag mengatakan, sejak awal menjabat Kementerian Agama mendorong penguatan dua gagasan utama, yakni Ekoteologi dan Kurikulum Cinta, sebagai pendekatan pembangunan kehidupan keagamaan yang berorientasi pada kemanusiaan dan keberlanjutan.

“Kita harus punya rasa dalam mengelola alam. Pelestarian lingkungan tidak boleh berpikir jangka pendek, tetapi harus memperhatikan masa depan. Mari kita wariskan bumi yang indah untuk anak cucu kita. Inilah yang kami sebut Ekoteologi,” ujarnya.

Selain peran agama dalam pelestarian lingkungan Menag menekankan tentang peran agama dalam pengendalian dampak kecanggihan teknologi, termasuk kecerdasan buatan.

“Kecanggihan teknologi tanpa dasar moral agama dapat mengancam dehumanisasi. Karena itu, nilai-nilai agama harus menjadi tuntunan dalam perkembangan teknologi,” katanya.

Dalam konteks moderasi beragama, Menag menegaskan bahwa perbedaan keyakinan merupakan realitas yang harus dihormati.

“Kalau di sana Abraham, di sini Ibrahim. Jangan memaksakan yang berbeda menjadi sama, dan jangan pula memaksakan yang sama menjadi berbeda. Mari tetap berjalan bersama di tengah perbedaan,” ujar Menag.

Menag juga menegaskan bahwa Kementerian Agama adalah rumah bersama seluruh umat beragama.“Kementerian Agama bukan milik satu agama. Menteri Agama bukan menteri satu agama. Semua agama harus dilibatkan dan duduk bersama,” katanya.

Ke depan, Menag berharap rumah ibadah dapat berfungsi sebagai pusat kemanusiaan yang terbuka bagi semua.

“Saya ingin rumah ibadah menjadi rumah besar bagi kemanusiaan. Saat mudik Lebaran maupun Natal, rumah ibadah bisa difungsikan sebagai posko kemanusiaan. Rumah ibadah adalah rumah kemanusiaan. Tamunya Katedral adalah tamunya Istiqlal, demikian sebaliknya,” pungkas Menag.

Seminar Natal Nasional dan Moderasi Beragama ini diharapkan memperkuat peran tokoh agama dalam menjaga kerukunan, merawat lingkungan, serta membangun peradaban bangsa yang berlandaskan nilai agama dan kemanusiaan.

Berita Terkait