Konsultasi LPPN dan Ditjen Bimas Kristen Bersama Juri Pesparawi Nasional XIV 2026 Digelar di Makassar

Kamis, 23 April 2026, 21:44:15 WIB

Makassar (DBK) — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen bersama Lembaga Pengembangan Pesparawi Nasional menggelar kegiatan konsultasi dengan para juri Pesparawi Nasional XIV pada Rabu (23/04). Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam persiapan penyelenggaraan Pesparawi yang akan datang.

Mewakili Dirjen Bimas Kristen, Direktur Urusan Agama yang juga Sekretaris Umum LPPN, Luksen Jems Mayor, hadir bersama Sekretaris Ditjen Bimas Kristen selaku Bendahara Umum LPPN, Johni Tilaar. Kegiatan ini turut dihadiri sekitar 30 juri Pesparawi dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam laporannya, Ketua Panitia yang juga menjabat sebagai Ketua III LPPN, Untung P. Siahaan, menyampaikan apresiasi atas kehadiran para juri dari seluruh Indonesia. Untung menegaskan bahwa keikutsertaan 30 orang juri dalam kegiatan ini merupakan bagian penting untuk menyatukan persepsi serta memperkuat kesiapan menjelang pelaksanaan Pesparawi.

“Terima kasih atas kehadiran Bapak dan Ibu sekalian. Mari kita mengikuti kegiatan ini dengan baik sebagai bekal dalam menjalankan tugas penjurian pada Pesparawi yang akan digelar pada bulan Juni mendatang,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua LPPD Provinsi Sulawesi Selatan, Pdt. Adrie O. Massie, menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta dan berharap para juri dapat melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab sambil menikmati keindahan kota Makassar.

Arahan sekaligus pembukaan kegiatan disampaikan oleh Direktur Urusan Agama Kristen, Luksen Jems Mayor. Luksen menekankan bahwa tugas sebagai dewan juri bukan sekadar penilaian teknis, melainkan juga panggilan iman. Menurutnya, para juri telah dipilih untuk mengemban amanah yang tidak hanya dipertanggungjawabkan secara profesional, tetapi juga secara spiritual di hadapan Tuhan.

Luksen mengingatkan bahwa lagu-lagu yang dilombakan dalam Pesparawi merupakan bentuk pujian dan pemuliaan kepada Tuhan. Oleh karena itu, seluruh proses penilaian harus dilakukan dengan integritas tinggi serta menjunjung nilai-nilai kekristenan.

Lebih lanjut, Luksen menyoroti pentingnya penyelenggaraan Pesparawi di Papua. Menurutnya, ajang tersebut bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi juga menyangkut martabat umat Kristen, khususnya masyarakat Papua sebagai tuan rumah.

“Penyelenggaraan Pesparawi di Papua bukan hanya kegiatan biasa, tetapi menjadi bagian penting dalam menjaga martabat masyarakat Papua. Semangat ini harus kita pelihara bersama,” ujarnya.

Kegiatan konsultasi ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara penyelenggara dan dewan juri, sehingga pelaksanaan Pesparawi Nasional XIV Tahun 2026 dapat berlangsung dengan baik serta memberikan dampak positif bagi umat Kristen di seluruh Indonesia.

Berita Terkait