Menteri Agama Serukan Keadilan dan Kerukunan sebagai Pilar Utama Kebangsaan

Rabu, 19 November 2025, 21:58:57 WIB

Bandung Barat (DBK)---Pembukaan Seminar Agama-Agama (SAA) ke-39 yang digelar Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) berlangsung khidmat di Lembang, Rabu (19/11/2025). Mengusung tema “Memperjuangkan Keadilan, Merawat Kerukunan,” seminar tahunan ini dibuka oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama, Jeane Marie Tulung, yang hadir mewakili Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar.

Dalam sambutan yang dibacakan Dirjen, Menteri Agama kembali menegaskan bahwa keadilan dan kerukunan harus menjadi “nafas bersama” bagi seluruh elemen bangsa. Dua nilai ini, menurutnya, adalah fondasi penting untuk menjaga Indonesia tetap kokoh, maju, dan damai.

Menag juga menyampaikan apresiasi kepada PGI atas konsistensi dalam menghadirkan ruang dialog lintas agama yang konstruktif. Ia mengibaratkan keadilan dan kerukunan sebagai “dua sayap yang harus mengepak bersama” dalam upaya besar merawat kehidupan berbangsa.

“Bila keadilan pincang, kerukunan mudah goyah. Bila kerukunan diabaikan, keadilan kehilangan makna sosialnya,” ujar Menag dalam sambutannya.

Lebih jauh, sambutan tersebut menekankan bahwa seluruh ajaran agama menolak bentuk penindasan dan diskriminasi. Karena itu, memperjuangkan keadilan sosial menjadi landasan utama bagi hadirnya kerukunan yang kuat dan berkelanjutan.

Dalam kesempatan itu, Menag turut menyoroti berbagai langkah yang kini dikembangkan Kementerian Agama untuk merespons tantangan intoleransi serta krisis global — termasuk krisis iklim — melalui pemaknaan baru Trilogi Kerukunan serta penguatan Ekoteologi.

Trilogi Kerukunan, yang semula menitikberatkan pada relasi sosial, kini diperluas mencakup harmoni spiritual dan ekologis. Sementara Ekoteologi diperkenalkan untuk meneguhkan pandangan bahwa alam semesta adalah wahyu kehidupan yang mengandung pesan spiritual dan etis, sehingga merawat lingkungan merupakan bagian dari menjaga keseimbangan ciptaan Tuhan.

“Konsep ekoteologi berbasis pada hubungan erat antarsesama manusia, hubungan manusia dengan alam, dan hubungan manusia serta alam dengan Tuhan. Inilah kerukunan yang holistik,” tegas Menag.

Menutup sambutannya, Menag mengajak seluruh umat beragama untuk menghadirkan pelayanan yang berdampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, ritual keagamaan harus sejalan dengan aksi kemanusiaan dan pembelaan terhadap keadilan sosial.

“Memperjuangkan keadilan adalah bagian dari ibadah. Merawat kerukunan adalah bagian dari iman. Dan membela kemanusiaan adalah wujud nyata ketaatan kepada Tuhan.”

Seminar Agama-Agama ke-39 ini diharapkan menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan baru yang mencerahkan, demi terwujudnya Indonesia yang adil, rukun, berperadaban kasih, dan semakin peduli terhadap kemanusiaan serta kelestarian bumi.

----------------------------------------------------------------------------------

Penulis : Reinhart Siahaan

Editor : Harryson Sitorus

Berita Terkait