Kasubdit Pendidikan Tinggi Hadiri Wisuda ke-XIV STT STAR Riau, Sampaikan Orasi Ilmiah tentang Peran Hamba Allah di Era Artificial Intelligence

Rabu, 10 Desember 2025, 16:37:30 WIB

Pekanbaru (DBK) — Kasubdit Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Bimas Kristen Kementerian Agama RI, Weldemina Yudit Tiwery, hadir mewakili Direktur Jenderal Bimas Kristen, Jeanne Marie Tulung, dalam Wisuda Angkatan XIV Sekolah Tinggi Teologi (STT) Arastamar Riau di Pekanbaru. Pada kesempatan tersebut, Yudith juga membawakan orasi ilmiah berjudul “Menjadi Hamba Allah yang Unggul di Era Artificial Intelligence: Antara Kenosis, Literasi Digital, dan Interpati” yang disusun oleh Dirjen Bimas Kristen. (10/12)

Acara wisuda berlangsung penuh khidmat dan sukacita. Dalam orasinya, Yudith menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan atas capaian akademik yang berhasil diraih setelah melalui perjalanan panjang dalam ziarah keilmuan di STT Arastamar Riau.

“Kami bangga melepas saudara-saudari untuk berkarya bagi gereja, bangsa, dan negara. Kiranya jalan pengabdian ke depan menjadi momentum untuk memuliakan Allah, membela keadilan ekologis, mengangkat martabat kemanusiaan, dan memuliakan bangsa Indonesia,” ujarnya.

Dalam orasi ilmiahnya, Yudith menegaskan bahwa perkembangan teknologi khususnya Artificial Intelligence (AI) telah memasuki seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk lembaga pendidikan teologi dan komunitas gereja.

Beliau menyampaikan bahwa budaya digital yang terus menguat membawa peluang sekaligus tantangan. Karena itu, pelayan gereja dan cendekiawan Kristen perlu merespons perubahan ini dengan bijaksana tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai Kristiani.

“AI bukanlah sesuatu yang bisa kita tolak. Sebaliknya, sebagai pelayan Kristus kita harus merangkul budaya digital ini dan memanfaatkannya untuk melayani Tuhan, sesama, dan alam semesta,” tegasnya.

Selanjutnya, Yudith memaparkan tiga landasan utama bagi para lulusan agar mampu menjadi hamba Allah yang unggul di tengah perkembangan teknologi modern.

1. Berakar pada Spiritualitas Kenosis Kristus

Kenosis dipahami sebagai sikap pengosongan diri yang diteladankan Kristus ketika Ia merendahkan diri dan hadir dalam realitas manusia. Dari teladan ini, para pelayan gereja diingatkan untuk:

  • merangkul dunia dan dinamika zaman, bukan menjauhinya;
  • bersikap rendah hati di tengah kemajuan teknologi;
  • menggunakan teknologi untuk memuliakan Allah, bukan untuk meninggikan diri.

2. Memiliki Literasi Digital yang Mumpuni

Di era ketika gereja terus bergerak menuju bentuk digital church, literasi digital menjadi kemampuan yang wajib dimiliki para pelayan Tuhan. Pemanfaatan teknologi jaringan memungkinkan: 

  • perluasan jangkauan pelayanan hingga level global,
  • komunikasi yang lebih efektif,
  • serta penyampaian kabar baik Kristus kepada lebih banyak orang.

Dengan literasi digital yang baik, gereja dapat tetap relevan dan kontekstual.

3. Menghidupi Sikap Interpati

Interpati, yang melampaui empati dan simpati, adalah kemampuan menempatkan diri dalam perspektif orang lain serta melampaui batas identitas maupun budaya. Dalam kondisi masyarakat digital yang kerap menciptakan jarak emosional, interpati diperlukan untuk:

  • menjaga kualitas hubungan antarmanusia,
  • memperkuat interkonektivitas komunitas,
  • serta menghadirkan kasih Kristus dalam relasi sosial.

Menutup orasi ilmiah, Yudith mengutip pernyataan Sean Gerety:

“The technology you use impresses no one. The experience you create with it is everything.”

Beliau menegaskan bahwa teknologi hanyalah sarana. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana teknologi digunakan untuk menciptakan ruang-ruang pelayanan yang membawa dampak spiritual, sosial, dan kemanusiaan, tutupnya.

Berita Terkait