Seminar Natal Nasional di Manado, Dirjen Bimas Kristen: Gereja Harus Jadi Ruang Aman Bagi Keluarga dan Kesehatan Mental Jemaat

Kamis, 11 Desember 2025, 16:28:02 WIB

Manado (DBK)— Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama, Jeane Marie Tulung, membuka sekaligus menjadi Keynote Speaker pada acara Seminar Natal Nasional, yang diselenggarakan oleh Panitia Natal Nasional tahun 2025, bertempat di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado, Kamis (11/12).

Mengusung tema Natal Nasional 2025, “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” yang terinspirasi dari Matius 1:21–24, kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya keluarga sebagai pusat pembentukan karakter, iman, dan ketahanan sosial bangsa. 

Seminar ini diikuti sekira 600 peserta, turut dihadiri Ketua Harian Panitia Natal Nasional Pdt. Jason Balompapoeng, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pdt.Jacklevyn Manuputty, Rektor IAKN Manado Olivia Cherly Wuwung, Rektor Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) Sandra A. Korua, Pimpinan Sinode, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Pemerintah Daerah Provinsi Sulut dan Kabupaten Minahasa, serta para tokoh gereja dari berbagai denominasi, Dosen, dan Mahasiswa.

Dalam paparannya, Dirjen mengangkat tema mengenai peran gereja dalam pelayanan kesehatan mental keluarga, merujuk pada berbagai dinamika krisis yang dialami keluarga Indonesia, termasuk peningkatan kasus kekerasan rumah tangga, konflik relasi, tekanan media sosial, hingga stres dan gangguan mental yang dialami anak dan remaja.

“Kita melihat data yang memprihatinkan. Kasus kekerasan rumah tangga mencapai 58,9 persen dan 61,9 persen korbannya adalah anak. Ini menunjukkan bahwa keluarga sedang berada dalam tekanan berat dan membutuhkan pendampingan serius,” ujar Dirjen.

Beliau juga menyoroti tingginya angka perceraian nasional, perubahan pola relasi akibat digitalisasi, hingga meningkatnya depresi dan kecemasan pada remaja.

Dirjen menegaskan bahwa gereja memiliki mandat moral dan spiritual untuk terlibat aktif dalam mendampingi keluarga yang mengalami pergumulan mental dan sosial.

“Pelayanan kesehatan mental adalah wujud nyata kasih Kristus. Gereja harus menjadi ruang aman yang menyembuhkan luka batin, memulihkan martabat jemaat, dan menghadirkan harapan bagi keluarga,” tegasnya.

Menurutnya, gereja dapat mengimplementasikan pelayanan ini melalui edukasi keluarga, konseling pastoral, pembentukan support group keluarga, serta mentoring bagi pasangan dan orang tua.

“Kita tidak boleh membiarkan jemaat menghadapi pergumulan mental dan keluarga sendirian. Gereja harus hadir mendampingi dan memastikan setiap keluarga mendapat dukungan yang memadai,” sambung Dirjen.

“Kesehatan mental sering kali masih dianggap tabu. Padahal jemaat butuh ruang aman untuk bercerita. Gereja perlu memecah stigma, membangun literasi, dan membuka ruang dialog agar umat berani mencari pertolongan,” tutur Dirjen.

Menjelang perayaan Natal, Dirjen mengingatkan kembali pesan teologis kelahiran Yesus sebagai wujud kasih Allah yang memulihkan relasi manusia dengan Allah dan sesamanya.

“Dalam kerapuhan hidup manusia, Allah hadir untuk menyembuhkan dan memulihkan. Pemulihan keluarga dimulai dari hati yang mau mendengar dan taat,” ujarnya.

Kementerian Agama, melalui Ditjen Bimas Kristen, berkomitmen untuk memperkuat literasi keluarga, pelatihan konseling pastoral, serta dukungan terhadap gereja agar mampu memberikan pelayanan yang relevan dengan tantangan masa kini.

Seminar Natal Nasional ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, gereja, lembaga pendidikan keagamaan, dan masyarakat dalam menghadapi persoalan kesehatan mental keluarga.

Berita Terkait