Bimas Kristen Segera Luncurkan Buku Panduan Kurikulum Berbasis Cinta bagi Sekolah Kristen

Selasa, 16 Desember 2025, 23:54:17 WIB

Tangerang Selatan (DBK) — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama tengah menyiapkan buku panduan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang akan diterapkan di sekolah-sekolah Kristen. Buku panduan tersebut dijadwalkan akan diluncurkan pada 29 Desember 2025.

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Bimas Kristen Kemenag, Jeane Marie Tulung, dalam sesi diskusi panel pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Agama 2025 yang berlangsung di Gading Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (16/12/2025).

“Ke depan akan ada buku panduan Kurikulum Berbasis Cinta bagi sekolah Kristen yang akan diluncurkan pada 29 Desember. Kurikulum ini diharapkan menjadi instrumen penguatan karakter, khususnya dalam membangun kerukunan dan cinta kemanusiaan sejak usia dini,” ujar Jeane.

Paparan tersebut disimak langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi‘i, para pejabat Eselon I dan II Kemenag, rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN), Kepala Kantor Wilayah Kemenag se-Indonesia, serta peserta Rakernas yang hadir secara luring maupun daring.

Dirjen menjelaskan bahwa nilai cinta kemanusiaan yang diusung dalam KBC tidak hanya berhenti pada tataran konsep, tetapi diwujudkan melalui berbagai aksi nyata. Di antaranya penguatan generasi muda yang toleran dan moderat, peningkatan kepedulian sosial dan kesehatan, serta penguatan solidaritas kebangsaan di ruang publik.

Di bidang layanan keagamaan, Ditjen Bimas Kristen juga mencatat adanya peningkatan akses dan kualitas layanan bagi umat Kristen. Hal tersebut diwujudkan melalui bantuan sarana ibadah, distribusi kitab suci, serta penguatan kelembagaan keagamaan. Pembinaan keagamaan pun diperluas hingga menjangkau keluarga, lembaga pemasyarakatan, rumah sakit, dan ruang publik melalui kemitraan dengan sinode serta organisasi gereja.

Selain itu, Dirjen menyoroti capaian dalam pengembangan pendidikan keagamaan Kristen yang unggul, ramah, dan berintegritas. Capaian tersebut meliputi peningkatan mutu dan akreditasi satuan pendidikan keagamaan Kristen serta penguatan sistem penjaminan mutu pendidikan.

Meski demikian, Beliau mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, seperti keterbatasan jumlah penyuluh agama Kristen, kendala regulasi pendidikan tinggi keagamaan Kristen, serta keterbatasan anggaran dan sarana prasarana di sejumlah wilayah.

“Berbagai kendala tersebut terus kami respons melalui dialog lintas iman, edukasi publik, penguatan kemitraan dengan pemerintah daerah, serta peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia,” pungkas Jeane.

------------------------------------------------------------------------------------

Sumber : Biro HKP Kemenag

Berita Terkait