Pesparawi, Panggung atau Mezbah?

Selasa, 05 Mei 2026, 10:11:46 WIB

Jogyakarta (DBK)---Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) merupakan agenda nasional tiga tahunan yang diselenggarakan secara bergilir di berbagai provinsi di Indonesia. Pada pelaksanaan Pesparawi Nasional ke-XIV tahun ini, Provinsi Papua Barat dipercaya menjadi tuan rumah perhelatan iman tersebut.

Di tengah kemeriahan dan persiapan besar menuju ajang tersebut, muncul sebuah pertanyaan mendasar: apakah umat Kristen sungguh sedang memuliakan Tuhan, atau justru lebih berfokus mengejar gelar juara?

Hal itu disampaikan Pdt Dr. Karel Martinus Siahaya, SH., M.Th., M.H., M.Sn., dosen Liturgika dan Musik Gereja STAK Teruna Bhakti Yogyakarta sekaligus salah satu juri nasional Pesparawi XIV.

Menjelang pelaksanaan Pesparawi, seluruh kontingen dari berbagai provinsi menjalani proses latihan yang panjang dan intensif. Olah vokal, penguasaan teknik, interpretasi lagu, hingga kekompakan tim terus diasah demi menghadirkan penampilan terbaik. Harmoni suara dipersiapkan sedemikian rupa agar terdengar indah dan memukau. Namun, di balik seluruh persiapan tersebut, menurut Pdt Karel, ada pertanyaan teologis yang perlu direnungkan.

“Ketika pujian dinyanyikan dalam format perlombaan, apakah ia tetap menjadi doa, atau justru berubah menjadi pertunjukan?” ujarnya.

Menurut akademisi liturgika dan musik gereja itu, pertanyaan tersebut bukan hanya penting bagi gereja, tetapi juga relevan bagi masyarakat yang hidup dalam budaya kompetisi. Dalam arus semacam itu, Pesparawi berisiko bergeser dari ruang perjumpaan iman menjadi sekadar panggung evaluasi artistik.

“Padahal sejak awal, Pesparawi adalah perayaan iman. Di sanalah musik gerejawi menemukan kedalamannya sebagai bahasa rohani. Ketika dimensi ini terabaikan, yang tersisa hanyalah keindahan tanpa makna,” tuturnya.

Karel menegaskan bahwa Pesparawi perlu dikembalikan pada esensinya sebagai mezbah, bukan sekadar panggung. Menurutnya, yang dicari bukan hanya suara yang selaras, melainkan hati yang sejalan dengan pujian yang dinaikkan.

“Persoalan utamanya bukan semata-mata teknis, melainkan eksistensi Pesparawi itu sendiri. Teknik memang penting, tetapi itu hanyalah sarana. Tanpa kedalaman rohani, keindahan musikal akan menjadi kosong,” katanya.

Beliau juga mengingatkan bahwa bagi para peserta, latihan bukan hanya proses membentuk kualitas suara, tetapi juga membentuk karakter dan kehidupan rohani. Harmoni, katanya, bukan sekadar keselarasan nada, melainkan latihan kerendahan hati.

Pdt Karel kemudian mengutip firman Tuhan dalam Alkitab, dalam Mazmur 34:2, “Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu.” Sesuai dengan tema Pesparawi Nasional XIV.

Dalam konteks itu, ia menilai para juri memiliki peran strategis dalam menentukan arah Pesparawi. Apa yang dinilai oleh juri, menurutnya, akan membentuk orientasi para peserta.

“Jika yang diutamakan hanya presisi teknis, peserta akan fokus mengejar performa. Namun, jika juri memberi ruang bagi penghayatan, ketulusan, dan kedalaman spiritual, maka Pesparawi dapat melampaui logika perlombaan,” jelasnya.

Menurutnya, dimensi spiritual memang tidak dapat diukur dengan angka semata. Dibutuhkan kepekaan untuk membedakan mana nyanyian yang hanya terdengar indah, dan mana yang sungguh lahir dari hati.

Karel menegaskan bahwa kompetisi tidak perlu dihilangkan, tetapi harus ditempatkan secara proporsional.

“Kompetisi adalah sarana, bukan tujuan. Ia dapat mendorong kualitas, tetapi tidak boleh menggantikan makna,” tegasnya.

Saat Pesparawi Nasional digelar di Manokwari nanti, ribuan suara akan bersatu dalam pujian. Namun, menurut Pdt Karel, yang paling menentukan bukan hanya harmoni yang terdengar, melainkan arah spiritual yang dihidupi.

“Tanpa itu, Pesparawi mungkin tetap memukau, tetapi kehilangan doanya,” pungkasnya.

---------------------------------------------------------------------------

Penulis : Pdt Dr. Karel Martinus Siahaya, SH., M.Th., M.H., M.Sn.

Berita Terkait