Kemenag Perkuat Layanan Prioritas di Tengah Keterbatasan Anggaran 2026

Selasa, 07 April 2026, 15:02:33 WIB

Jakarta (DBK)---Kementerian Agama terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga kualitas layanan keagamaan dan pendidikan meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran tahun 2026. Melalui berbagai langkah strategis, efisiensi dilakukan tanpa mengorbankan program-program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Dalam sebuah rapat koordinasi yang turut dihadiri oleh Dirjen Bimas Kristen, Jeane Marie Tulung, Kemenag menegaskan pentingnya inovasi dan kolaborasi lintas sektor. Kepala Biro Perencanaan Setjen Kemenag, Kastolan, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan penajaman ekstrem terhadap anggaran, khususnya pada pos belanja non-prioritas.

“Kami melakukan pemotongan signifikan pada perjalanan dinas luar negeri hingga 70% dan perjalanan dinas dalam negeri sebesar 65%. Hasil efisiensi ini kami alihkan untuk menjaga agar layanan dasar tetap berjalan optimal,” ujarnya dalam kegiatan Breakfast Meeting di Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Langkah tersebut sejalan dengan arahan Menteri Agama, Nasaruddin Umar, yang menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam perencanaan program. Beliau meminta seluruh jajaran untuk tidak terpaku pada keterbatasan anggaran, melainkan mampu menghadirkan solusi kreatif atas berbagai persoalan keagamaan di tengah masyarakat.

“Berpikirlah out of the box. Jangan jadikan keterbatasan anggaran sebagai alasan berhenti berinovasi. Justru di situlah kita ditantang untuk mencari alternatif terbaik,” tegas Menag.

Di tengah tekanan fiskal, Kemenag juga melakukan penajaman terhadap program prioritas agar tetap tepat sasaran. Fokus utama diarahkan pada penguatan layanan keagamaan dan pendidikan yang langsung menyentuh masyarakat di tingkat akar rumput.

Menag menekankan pentingnya sinergi antara Direktorat Jenderal, Kantor Wilayah, hingga Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN). Ia mengajak seluruh elemen untuk bekerja sebagai satu tim besar.

“Mari kita menjadi Super Team, bukan Superman. Kolaborasi adalah kunci. Mahasiswa melalui program KKN atau PKN dapat dilibatkan untuk membantu program Bimas, seperti memberantas buta huruf Al-Qur’an di desa atau mencegah praktik pernikahan tidak tercatat,” jelasnya.

Selain itu, integrasi program penyuluh agama, imam masjid, dan Kantor Urusan Agama (KUA) juga menjadi fokus penting. Pendekatan yang holistik dan terintegrasi diyakini mampu memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.

Upaya ini menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk tetap memberikan pelayanan terbaik. Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, Kementerian Agama berupaya memastikan bahwa setiap program tetap memiliki makna dan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia.

-------------------------------------------------------------------

Sumber : Biro HKP

Berita Terkait