Nias (DBK)---Kementerian Agama Republik Indonesia menegaskan bahwa peran gereja di era modern tidak lagi cukup terbatas pada kegiatan ritual dan khotbah. Di tengah tekanan sosial, disrupsi digital, serta potensi konflik berbasis identitas, gereja didorong untuk hadir secara nyata sebagai agen perubahan di masyarakat.

Penegasan ini disampaikan dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke-74 Gereja Orahua Niha Keriso Protestan (ONKP) yang dirangkaikan dengan Rapat Koordinasi (Rakor) Pendeta di Nias, Kamis (16/4).
Mewakili Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, Direktur Urusan Agama Kristen Luksen Jems Mayor menekankan bahwa gereja harus melampaui perannya sebagai penyampai khotbah di mimbar.
“Kalau gereja hanya berhenti di mimbar, maka ia akan tertinggal. Gereja harus hadir di tengah krisis sosial mendampingi, menyelesaikan masalah, dan menjadi pembawa damai,” ujarnya.
Beliau menggarisbawahi berbagai tantangan yang kini dihadapi gereja, mulai dari perubahan gaya hidup masyarakat, tekanan ekonomi keluarga, persoalan generasi muda, hingga meningkatnya kerentanan konflik sosial. Menurutnya, situasi ini menuntut gereja untuk lebih adaptif dan responsif, termasuk dalam merumuskan strategi pelayanan yang konkret dan terukur.
Rakor Pendeta ONKP disebut sebagai momentum strategis untuk memperkuat konsolidasi internal sekaligus menyatukan arah pelayanan gereja ke depan.
“Ini bukan sekadar rapat rutin. Ini forum menentukan masa depan pelayanan gereja—apakah tetap relevan atau justru ditinggalkan,” tegasnya.
Selain itu, pemerintah juga menekankan pentingnya peran gereja dalam menjaga moderasi beragama di tengah masyarakat yang majemuk. Gereja diharapkan mampu menjadi penjaga harmoni sosial, bukan justru memperuncing perbedaan.
“Gereja harus berdiri di garis depan sebagai penjaga kerukunan. Bukan memperuncing perbedaan, tetapi merawat persatuan,” kata Luksen.
Isu integritas turut menjadi sorotan dalam forum tersebut. Kepercayaan publik terhadap lembaga keagamaan dinilai sangat bergantung pada transparansi dan keteladanan para pemimpinnya.
“Tanpa integritas, pelayanan kehilangan makna. Gereja harus menjadi contoh dalam kejujuran, kesederhanaan, dan akuntabilitas,” tambahnya.
Selama 74 tahun perjalanannya, ONKP telah berperan penting dalam pembinaan iman dan pembangunan masyarakat, khususnya di wilayah Nias. Namun, ke depan tantangan dinilai akan semakin kompleks.
Karena itu, gereja didorong untuk tidak sekadar bertahan, tetapi juga bertransformasi mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai iman.
“Gereja harus berani berubah, tanpa kehilangan nilai. Tetap setia pada iman, tetapi relevan dengan zaman,” pungkasnya.