Kemenag Dorong Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi pada Hardiknas 2026

Sabtu, 02 Mei 2026, 10:16:11 WIB

Jakarta (DBK)---Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan komitmen Kementerian Agama Republik Indonesia dalam memperkuat arah pendidikan keagamaan melalui pengembangan kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi. Penegasan ini disampaikan dalam upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026 di Jakarta.

Upacara tersebut dihadiri oleh jajaran pejabat eselon I Kemenag, termasuk Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, Jeane Marie Tulung, serta seluruh ASN Ditjen Bimas Kristen yang turut menjadi peserta upacara.

Dalam amanatnya, Menag menekankan bahwa pendidikan keagamaan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai fondasi pembentukan karakter dan arah kehidupan umat di masa depan. Menurutnya, kurikulum berbasis cinta menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang humanis dan penuh empati.

“Jika cinta sudah berbicara, maka seluruh persoalan bisa diselesaikan dengan mudah,” ujar Menag.

Selain itu, Kemenag juga mendorong integrasi perspektif ekoteologi dalam sistem pendidikan. Konsep ini menekankan pentingnya harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam semesta sebagai satu kesatuan yang saling mendukung.

“Tidak mungkin kita bisa sempurna menjadi hamba tanpa dukungan alam yang kondusif,” lanjutnya.

Menag menjelaskan, manusia sebagai khalifah di bumi harus membangun relasi yang baik, tidak hanya dengan sesama manusia (ukhuwah insaniyah dan ukhuwah wataniyah), tetapi juga dengan seluruh makhluk ciptaan Tuhan (ukhuwah makhlukiyah). Pendekatan ini menempatkan alam sebagai bagian integral dalam kehidupan manusia.

Kemenag juga mencatat tingginya minat masyarakat terhadap pendidikan keagamaan, khususnya madrasah. Banyak lembaga pendidikan keagamaan yang masih memiliki daftar tunggu panjang, mencerminkan tingginya kepercayaan publik terhadap sistem pendidikan yang menekankan pembentukan akhlak mulia.

“Di lembaga pendidikan keagamaan, bukan hanya ilmu yang ditransformasikan, tetapi juga nilai-nilai kehidupan dan akhlakul karimah,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Menag mengingatkan pentingnya keikhlasan sebagai fondasi dalam pelayanan pendidikan. Menag menilai, tantangan pendidikan hanya dapat dihadapi melalui semangat kebersamaan dan kolaborasi berbagai pihak.

Mengusung tema Hardiknas 2026, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” Menag menegaskan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat.

“Pendidikan adalah ikhtiar kolektif. Semua pihak harus saling menguatkan untuk memastikan setiap anak mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas,” tegasnya.

Beliau juga menyoroti peran strategis madrasah, pesantren, dan lembaga pendidikan keagamaan dalam membangun sumber daya manusia yang seimbang secara intelektual, spiritual, dan sosial.

“Pendidikan yang baik bukan hanya melahirkan generasi cerdas, tetapi juga pribadi yang berintegritas, beretika, dan peduli terhadap sesama,” tambahnya.

Menutup sambutannya, Menag mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus memperkuat kolaborasi dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif, terbuka, dan berakar pada nilai-nilai karakter.

“Mari terus belajar, berkolaborasi, dan memastikan pendidikan Indonesia semakin maju serta menjangkau semua,” pungkasnya.

-----------------------------------------------------------

Sumber : Biro HKP

Berita Terkait