25,87% Generasi Milenial di Indonesia Harus Memoderatkan Kehidupan Beragama
Jumat, 12 November 2021, 15:22:33 WIB
Jakarta, (DBK) – Untuk mencapai kehidupan yang damai, toleran dan harmonis, moderasi beragama menjadi salah satu misi penting untuk diwujudkan, mengingat Indonesia memiliki keragaman, salah satunya keragaman agama. Kemajemukan ini tentunya bukan untuk dijadikan sumber konflik melainkan perlu dirawat dan diperkuat sehingga Indonesia menjadi makmur dan sejahtera.
Lalu peran apa saja yang bisa diambil millenial sebagai penerus bangsa dalam menjaga muatan moderasi beragama di indonesia?
Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Kristen, Prof.Dr. Thomas Pentury, M.Si, Staf Khusus Menteri Agama, Ishfah A. Aziz, Sekretaris Umum DPP GAMKI, Sahat Martin Philip Sinurat, S.T., M.T. mengupas lebih jauh tentang hal tersebut melalui tayangan iBreak di iNews TV.
Dalam perbincangannya, Dirjen mengungkapkan bahwa moderasi beragama merupakan sebuah perspektif, cara pandang, praktek baru kehidupan beragama yang lebih moderat, lebih di tengah, sehingga bahasa bahwa keagamaan yang agak ekstrim itu kita bawa ke tengah.
“Dalam kehidupan beragama, kita dihadapkan pada posisi memahami agama dalam perspektif kebenaran yang sifatnya subjektif, kemudian harus dibangun dalam bingkai yang inklusif. Praktek itu kemudian nyata dalam kehidupan ke-Indonesia-an kita,” terang Dirjen.
Lebih lanjut Dirjen sampaikan, ada empat indikator penting dalam membagun moderasi beragama.
Pertama adalah kehidupan yang saling bertoleran. Kehidupan bertoleran ini yang menurut saya penting. Indikasinya adalah kehidupan berbangsa dan beragama itu saling menghargai dan memahami dalam kehidupan ke-Indonesiaan.
Kedua, komitmen pada kehidupan berbangsa. Beragama itu seharusnya juga berbangsa dan bernegara. Komitmen berbangsa itu nampak atau tidak di dalam praktek kehidupan beragama.
Ketiga, anti pada prinsip kekerasan. Kalau masih ada praktek kekerasan, berarti belum moderat.
Terakhir, harus bisa menerima aspek kebudayaan. Agama dengan budaya itu seperti dua sisi pada mata uang logam yang tidak bisa dipisahkan karena tradisi biasanya menjadi media untuk penyebaran agama.
“Ada banyak doktrin keagamaan yang cenderung ekstrim karena memandang kebenaran hanya pada posisinya. Kalau orang menganggap benar, di luar dia sudah pasti itu salah, perspektif itu yang harus kita hindari,” ungkap Dirjen.
“Kita harus keluar dari eksklusifisme dan kemudian bertemu dengan agama-agama lain dalam kerangka inklusif,” tambahnya.
Dirjen juga menambahkan, persentase generasi milenial di Indonesia kurang lebih 25,87%, menjadikan mereka sebagai bagian dari ekosistem yang harus kita bangun secara bersama.
“Salah satu media yang penting dalam pembangunan nilai-nilai moderasi beragama adalah melalui pendidikan. Lewat model pendidikan dan kurikulum yang memasukan nilai-nilai moderasi beragama dan menggambarkan kemajemukan keIndonesiaan, kita membantu bangsa untuk menerapkan kehidupan ke-Indonesiaan yang moderat,” imbuh Dirjen.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber : -
Penulis : Gloria de Fretes
Editor : Harryson Eddy
Fotografer : Gloria de Fretes
Berita Terkait
- Penguatan Moderasi Beragama Bagi Pimpinan Gereja Lokal dan Pemerintah Daerah se-Provinsi Aceh dan Sumatera Utara
- Transformasi Digital: Membangun Literasi Digital bagi Penyuluh Agama Kristen
- PGLII dan PGPI Resmi Dukung KUA jadi Pusat Layanan Semua Agama
- Dirjen: "Moderasi Beragama Dapat Dimulai dari Ucapan Tuhan Yesus"
Berita Terpopuler

Penerimaan Mahasiswa/i Baru IAKN Tarutung
Dibaca: 3843 kali

Seleksi Nasional PMB Tahun Akademik 2019/2020
Dibaca: 3603 kali

Menteri Agama Melantik Sejumlah Pejabat di Lingkungan Kemenag
Dibaca: 1689 kali

Perpanjangan Jadwal Pendaftaran CPNS Kementerian Agama Tahun 2018
Dibaca: 1637 kali
